ACEH JAYA | NANGGROENEWS.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Aceh Jaya menunjukkan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat terhormat dalam kehidupan generasi masa kini. Tradisi Peumeunap dan Seumuleng, peninggalan bersejarah Kerajaan Meureuhom Daya, kini memasuki babak baru setelah muncul gagasan untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya tersebut ke dalam kurikulum pendidikan berbasis kearifan lokal.
Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya Aceh. Tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi tahunan, Peumeunap dan Seumuleng juga diproyeksikan menjadi sumber pembelajaran yang mampu menanamkan identitas, karakter, dan nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Prosesi adat yang berlangsung khidmat di Kabupaten Aceh Jaya menjadi saksi semangat persatuan yang diwariskan oleh para leluhur. Tradisi tersebut menggambarkan kuatnya ikatan sosial, penghormatan terhadap sejarah, serta komitmen masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya yang telah hidup selama berabad-abad.
Pertemuan Bersejarah Zuriat Kerajaan Nusantara
Pelaksanaan adat Peumeunap dan Seumuleng tahun ini memiliki makna istimewa karena dihadiri para zuriat kerajaan dan tokoh adat dari berbagai wilayah Aceh dan Nusantara. Kehadiran mereka tidak hanya memperkuat legitimasi sejarah tradisi tersebut, tetapi juga menunjukkan kesamaan tekad dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Tokoh-tokoh yang hadir antara lain Dato’ Kiam Radja Tgk. Prof. Dr. (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D., Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara, YTAM Tuanku Muhammad Fauzi, S.Kom., MH dari Kejeruan Metar Belad Deli, perwakilan Kerajaan Tamiang, Peureulak, Samudra Pasai, Jeumpa, Pedir, Teunom, Bu Meulaboh, Seunagan, Tanah Nata, Kuala Batu, hingga Sinabang.
Momentum tersebut menjadi simbol bersatunya sembilan negeri dan berbagai keturunan kerajaan dalam satu tujuan, yakni menjaga kesinambungan sejarah dan budaya sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa.
BACA JUGA : Jawab Janji Kampanye Safwandi Salurkan ASLURETI Bagi 803 Lansia di Aceh Jaya.
Teuku Raja Saifullah, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah selaku Raja Negeri Daya dan Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh adat dan zuriat kerajaan yang hadir. Menurutnya, pelestarian adat harus menjadi tanggung jawab bersama agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Warisan Budaya yang Memiliki Nilai Universal
Dalam kesempatan tersebut, Dato’ Kiam Radja Tgk. Prof. Dr. (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. menegaskan bahwa tradisi Peumeunap dan Seumuleng merupakan bagian penting dari khazanah budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi dan layak dipertahankan sebagai warisan budaya tak benda.
Menurutnya, tradisi ini tidak hanya merepresentasikan identitas masyarakat Daya, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang mengandung pesan persatuan, penghormatan terhadap leluhur, dan penguatan nilai sosial di tengah masyarakat.
Pemerintah daerah sendiri telah memasukkan kegiatan tersebut ke dalam kalender budaya tahunan Kabupaten Aceh Jaya. Dukungan juga datang dari berbagai lembaga adat, termasuk Majelis Adat Aceh (MAA) dan unsur Wali Nanggroe.
Pendidikan Sebagai Benteng Pelestarian Budaya
Gagasan memasukkan nilai-nilai Peumeunap dan Seumuleng ke dalam dunia pendidikan muncul dari Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., Kepala SMP Darun Nizham sekaligus kandidat doktor Pendidikan Islam di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Ridwan menilai sekolah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Jika selama ini tradisi hanya diwariskan secara lisan, maka melalui pendidikan formal nilai-nilai tersebut dapat terdokumentasi dan dipelajari secara sistematis oleh generasi muda.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, ia telah melakukan koordinasi dengan sejumlah zuriat kerajaan di wilayah Barat Selatan Aceh. Inisiatif itu mendapat sambutan positif dan direncanakan akan dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar kerja sama pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Menyiapkan Generasi yang Mengenal Akar Sejarahnya
Program Pendidikan Islam berbasis kearifan lokal tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada semester pertama Tahun Pelajaran 2026–2027. Apabila terlaksana, langkah ini berpotensi menjadi salah satu model pendidikan budaya yang mengintegrasikan sejarah lokal ke dalam pembelajaran formal di Indonesia.
Lebih dari sekadar inovasi kurikulum, program ini merupakan upaya membangun kesadaran sejarah bagi generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi, pemahaman terhadap akar budaya menjadi penting agar anak-anak tidak kehilangan identitas dan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.
Tradisi Peumeunap dan Seumuleng mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya cerita masa lalu, melainkan sumber nilai yang membentuk masa depan. Dari ujung barat Sumatera, Aceh Jaya memberikan contoh bahwa pendidikan dan budaya dapat berjalan beriringan untuk menyiapkan generasi yang modern tanpa tercerabut dari akar sejarahnya.
Pelestarian budaya melalui pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya menjaga warisan leluhur tetap hidup, tetapi juga memperkuat karakter bangsa bagi generasi yang akan datang.*












