MEULABOH | NANGGROENEWS.com — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Aceh Barat akan menggelar Festival Literasi Aceh Barat 2026 pada 16–19 September 2026 di halaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Barat.
Mengusung tema “Aceh Barat Menuju Pusat Literasi Informasi”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat budaya membaca serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi, pengetahuan, dan bahan bacaan berkualitas.
Kepala Dispusip Aceh Barat, Abdurrani, S.Pd., M.Pd., mengatakan Festival Literasi Aceh Barat 2026 dirancang sebagai ruang kolaborasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
BACA JUGA : DPMPKB Aceh Jaya Dorong Percepatan ADG Tahap III, 85 Gampong Belum Mengajukan Penarikan.
“Festival Literasi ini akan menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah, masyarakat, pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, pelaku UMKM, dunia pendidikan, dan berbagai pihak lainnya yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan literasi di Aceh Barat,” kata Abdurrani, Kamis 03 September 2026.
Beragam agenda akan memeriahkan Festival Literasi Aceh Barat 2026, di antaranya Gramedia Book Fair, bedah buku, seminar literasi, kegiatan edukasi, aktivitas komunitas, pameran, serta partisipasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut Abdurrani, rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada masyarakat dalam mengakses dan menikmati berbagai sumber pengetahuan, sekaligus membuka ruang interaksi serta pertukaran gagasan.
Selain mendorong minat baca, festival ini juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menyaring informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Ia menilai kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi. Namun, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan dalam membedakan informasi yang benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Karena itu, literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan mengakses, memahami, mengolah, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak,” ujarnya.
Abdurrani menambahkan, keberadaan perpustakaan dan ruang literasi perlu dipandang lebih luas, bukan sekadar tempat menyimpan maupun membaca buku.
Menurutnya, ruang tersebut dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, informasi, inovasi, serta interaksi sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Keterlibatan berbagai unsur menjadi bagian penting dalam membangun gerakan literasi yang tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah maupun perpustakaan, tetapi juga tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat,” katanya.
Melalui Festival Literasi Aceh Barat 2026, pemerintah daerah berharap budaya membaca dapat semakin berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga diharapkan memperkuat posisi Aceh Barat sebagai daerah yang memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pengembangan budaya membaca, serta pemanfaatan informasi secara cerdas.
“Semangat ini harus diwujudkan melalui kolaborasi dan partisipasi semua pihak. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perpustakaan, komunitas, dunia usaha, pelaku UMKM, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi,” tutup Abdurrani.[][][]













